oleh

Pasang Surut Kehidupan Pelajar di Negri Kincir Angin

MAKASSAR,INISULSEL.com — Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Hasanuddin bersama Ikatan Alumni Unhas di Belanda mengadakan sharing session tentang beasiswa dan studi ke Belanda di ruang Prof. Syukur Abdullah gedung Dekanat FISIP Unhas, Selasa (20/8)..

Kegiatan yang bertajuk “Halo Makassar! Study In Holland Info Session” ini menghadirkan dua alumni Unhas yang kini tengah menempuh kuliah di Belanda, yaitu dr Amalia Mulia Utami, mahasiswa doktoral di Universitas Amsterdam, dan Haydar Muhammad Bachtiar, mahasiswa master di Universitas Erasmus.

Diskusi soal beasiswa dan studi ke Belanda ini dihadiri oleh puluhan mahasiswa dan alumni Unhas yang tertarik melanjutkan sekolah ke negeri kincir angin tersebut.

Dalam persentasinya Amalia Mulia Utami menceritakan banyak hal tentang pengalaman studi dan hidupnya selama di Belanda. Menurutnya, seorang yang studi di luar negeri, khususnya di Belanda, mengalami empat fase, yakni  masa honeymoon (bulan madu), crisis, recovery (pemulihan), dan adjustment (penyesuaian).

Tahap bulan madu atau tiga bulan pertama, katanya, merupakan momen paling bahagia ketika pertama kali menginjakkan kaki di negeri Belanda. Seorang mahasiswa di awal-awal tiba di tempat studi di luar negeri sangat senang, bangga, menghabiskan banyak waktu untuk foto-foto selfi.

Namun ketika memasuki triwulan kedua, mahasiswa mulai mengalami krisis. Berbagai kesulitan, khususnya tantangan pribadi seperti rasa rindu dengan Indonesia dan keluarga mulai dirasakan.

Fase ketiga, momen pemulihan dimana mahasiswa mulai sadar dan beradaptasi dengan lingkungan barunya di negeri orang. Di momen ini mahasiswa kembali menemukan kebahagiaannya.

Tahap yang keempat, waktu penyesuaian. Di fase inilah mahasiswa benar-benar sadar, kuat, dan mampu beradaptasi di negara asing dimana dia studi. “Masa adjusment itulah kalian mulai terbiasa di Belanda. Kalau bisa tahap adjusment ini lebih cepat lebih bagus. Jangan membiarkan diri terlena dengan lingkungan baru. Kalian harus berusaha, maju, dan pantang menyerah,“ kata Amalia yang juga alumnus Kedokteran Unhas.

Mahasiswa Ph.D penerima beasiswa LPDP tersebut mengatakan, dosen-dosennya di Belanda sangat terbuka. Keterbukaan kepada dosen, menurutnya, menjadi kunci selama menempuh studi di Belanda. “Jadi orang Belanda adalah orang yang terbuka. Kamu bicara saja apa yang kamu  suka dan tidak suka. Mereka tidak akan marah. Misalnya, saya dengan profesor saya berdebat. Mereka sangat menghargai pendapat kita,“ katanya.

Amalia mengungkapkan hal terberat kuliah di Belanda adalah bagaimana bergumul dengan paper. Apalagi bagi mahasiswa S3, selama 4 tahun harus menyelesaikan enam project yang mesti dibuatkan jurnal ilmiah dan publish.

Dia juga mengatakan, urusan rumah dan apartemen juga sangat sulit di Belanda. Sebab, urusan tempat tinggal di Belanda mahal, terlebih di Amsterdam. Selain itu, rumah dan apartemen tidak selamanya tersedia. Mahasiswa harus susah payah juga mencarinya.  “Saya tidak mau ceritakan semua kesulitannya. Saya senang mengatakan hal-hal positifnya kuliah di Belanda untuk memotivasi kamu semua agar bisa kuliah juga di sana,” ujar Amalia.

Sementara itu, Haydar Muhammad Bachtiar menyarankan pada peserta yang ingin melamar beasiswa Belanda agar memahami betul prosedur dan fokus bidang studi yang ditawarkan pemerintah Belanda. Menurut dia, Belanda memprioritaskan empat studi, yaitu ketahanan pangan, manajemen air, Hukum dan HAM, bisnis dan perdagangan internasional.

“Terutama yang buat perempuan. Mereka memiliki kesempatan besar mendapatkan beasiswa. Karena  pemerintah Belanda sedang fokus untuk mengembangkan kapasitas perempuan. Jadi 50 persen beasiswa yang diberikan pemerintah Belanda harus didapatkan perempuan,“ ungkap Haydar yang juga alumnus jurusan Ilmu Hubungan Internasional Unhas.

Haydar menambahkan, setelah memahami betul keinginan dan fokus studi yang ditawarkan pemberi beasiswa, pelamar harus mencari perguruan tinggi tujuan yang menjadi tempat studi. Calon penerima beasiswa Belanda harus sudah mengantongi Letter of Acceptance (LoA) dari universitas agar dapat diterima dalam program beasiswa Belanda. Jika sudah mendapatkan LoA itu, peluang kelulusan untuk memperoleh beasiswa pemerintah Belanda sangat besar.

Pemerintah Belanda sendiri menawarkan berbagai program beasiswa, salah satunya beasiswa StuNed. Informasi tentang beasiswa tersebut dapat diakses di www.stuned.info. Selain itu, perguruan tinggi di Belanda juga memberikan beasiswa kepada calon mahasiswa asing. Informasi ini dapat diakses di www.grantfinder.nl.

Di Unhas, informasi tentang beasiswa luar negeri, termasuk beasiswa Belanda, dapat diperoleh melalui Kantor Urusan Internasional atau Direktorat Kerjasama. Unhas secara tentatif menggelar acara-acara presentasi oleh alumni seperti ini, sehingga dapat memberi motivasi bagi mahasiswa untuk melanjutkan studi di luar negeri.