Makassar,INISULSEL.COM, – Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Sulawesi Selatan turut berpartisipasi dalam kegiatan Bedah Buku “Griya Abhipraya Sombere: Oase Pemulihan Warga Binaan Pemasyarakatan” yang dilaksanakan di Aula Dr. Hasanuddin Massaile, Balai Pemasyarakatan (Bapas) Kelas I Makassar. (25/07/25)
Kegiatan yang mengangkat semangat pembimbingan kemasyarakatan berbasis nilai lokal ini diawali dengan penandatanganan kerja sama antara Bapas Makassar dengan Universitas Negeri Makassar (UNM), Makassar Barbershop Community, dan DPW IPKEMINDO Sulawesi Selatan. Kolaborasi ini merupakan langkah konkret dalam memperkuat sinergi pembinaan warga binaan secara partisipatif dan inklusif.
Kepala Kanwil Ditjenpas Sulsel, Rudy Fernando Sianturi, dalam sambutannya mengapresiasi inisiatif literasi dan pendekatan pemulihan lokal yang diusung melalui buku ini. Ia menegaskan bahwa pemasyarakatan yang memanusiakan adalah fondasi utama dalam membangun kembali kepercayaan publik dan merestorasi kehidupan warga binaan secara utuh.
Buku Griya Abhipraya Sombere karya Surianto dan Andi Marwan Eryansyah ini menjadi refleksi nyata atas praktik pemasyarakatan yang mengusung nilai-nilai luhur budaya Bugis-Makassar seperti siri’, sipakatau, dan sombere’. Bedah buku turut menghadirkan diskusi kritis bersama akademisi, tokoh masyarakat, serta testimoni dari klien pemasyarakatan yang menjadi bagian dari proses pemulihan sosial.
Kegiatan ini turut dihadiri oleh Tokoh Pemasyarakatan Nasional Drs. Hasanuddin Massaile, Kepala Bapas Makassar selaku penulis pertama Surianto, Ketua Griya Abhipraya Sombere sekaligus penulis kedua Andi Marwan Eryansyah, Kepala Bapas Palopo Kiki Oditya Hernawarman, Ketua DPW IPKEMINDO Sulsel Ilham Taufiq, Founder Makassar Barbershop Community Arqam Zulfikar, serta perwakilan dari Pemuda Pancasila, Tim Griya Abhipraya, dan para Pembimbing Kemasyarakatan yang hadir langsung maupun secara daring.
Kegiatan ini semakin mempertegas bahwa pembinaan tidak dapat berjalan sendiri, tetapi harus dikuatkan melalui sinergi antara pemasyarakatan, perguruan tinggi, masyarakat sipil, serta berbagai elemen komunitas. Melalui forum ini, Bapas Makassar meneguhkan diri sebagai pionir pembimbingan kemasyarakatan yang tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga menyentuh aspek spiritual dan kultural.
Dengan semangat sombere’ dan nilai-nilai lokal yang membumi, pemasyarakatan di Sulawesi Selatan menapaki jalan menuju pendekatan yang lebih humanis dan bermartabat.(**)