
MAKASSAR, Inisulsel.com – Kelompok Cipayung Plus Makassar menegaskan komitmennya menjaga arah gerakan mahasiswa tetap konstruktif melalui jalur konsolidasi dan ruang dialog. Hal itu disampaikan dalam pertemuan bersama sejumlah elemen mahasiswa, Selasa (9/09/2025).
Ketua PC Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Makassar, Hariandi, menekankan bahwa gerakan mahasiswa di Makassar tidak lepas dari nilai idealisme. Ia menegaskan, tuntutan yang disuarakan Cipayung Plus dalam aksi demonstrasi bukanlah kepentingan kelompok semata, melainkan representasi dari aspirasi rakyat.
“Proses konsolidasi kami lakukan secara serius dan berulang kali, agar tuntutan yang disampaikan benar-benar berakar dari kebutuhan masyarakat. Dengan begitu, publik tidak menganggap aksi mahasiswa identik dengan kekacauan atau harus ditangani dengan kekerasan,” tegas Hariandi.
Ia memastikan, ke depan Cipayung Plus akan terus menginisiasi ruang-ruang dialog dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, sebagai cara solutif merespons aspirasi masyarakat.
“Ke depan, Cipayung Plus akan terus menginisiasi ruang dialog. Kami sudah memiliki draft bersama sebagai pijakan, dan itu menjadi komitmen kami untuk menjaga arah gerakan mahasiswa tetap konstruktif,” ujarnya.
Senada dengan itu, Ketua Presidium Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Makassar, Alexander Edison, menegaskan pentingnya membangun komunikasi sehat antara mahasiswa, pemerintah, dan masyarakat.
“Kalau ada isu di Kota Makassar, sebaiknya didahului dengan konsultasi atau dialog. Itu sejalan dengan agenda kami hari ini bersama Pak Wali, yakni membicarakan perkembangan kota melalui ruang dialog,” kata Alexander.
Alexander mengungkapkan, Cipayung Plus tengah menyiapkan forum dialog publik yang akan menghadirkan Wali Kota Makassar bersama masyarakat sebagai audiens utama. Tujuannya, agar kebijakan pemerintah dapat tersampaikan secara langsung dan transparan.
“Target audiensnya jelas, yaitu masyarakat Kota Makassar. Kami berharap Pak Wali bisa hadir langsung untuk menyampaikan kebijakan pemkot kepada publik. Itu penting sebagai wujud demokrasi berbasis dialog,” jelasnya.
Ia menambahkan, mahasiswa tidak seharusnya dicap negatif, karena kritik yang mereka sampaikan berangkat dari semangat konstruktif untuk memperbaiki keadaan.
“Dengan ruang dialog yang terbuka, kami yakin demokrasi di Makassar bisa berjalan lebih bermartabat,” tegas Alexander.


