Dari Fakultas ke Universitas: Ketika Pengalaman Menjadi Modal Kepemimpinan

Prof. Dr. Hasmyati, M.Kes. Dok.ist

MAKASSAR,INISULSEL.COM, – Perjalanan kepemimpinan di perguruan tinggi seringkali dimulai dari unit terkecil, namun tidak semua mampu membawa pengalaman tersebut menjadi kekuatan untuk skala yang lebih besar. Di tengah dinamika kampus, kebutuhan akan pemimpin yang matang dan mampu menyatukan menjadi semakin terasa.

Dalam konteks tersebut, kepemimpinan akademik tidak lagi cukup diukur dari jabatan yang pernah diemban, melainkan dari sejauh mana seseorang mampu menghadirkan perubahan yang berkelanjutan serta menciptakan lingkungan akademik yang sehat dan produktif. Kepemimpinan yang kuat adalah kepemimpinan yang mampu menyatukan berbagai dinamika, menjaga keseimbangan, serta memastikan seluruh elemen bergerak dalam satu arah yang sama.

“Yang paling terasa dari kepemimpinan beliau adalah pendekatan yang tidak berjarak. Komunikasi berjalan dengan baik, suasana kerja tetap kondusif, dan ada ruang bagi dosen untuk berkembang. Hal-hal seperti ini yang sebenarnya sangat dibutuhkan di level universitas.” berikut ungkapan salah seorang Alumni UNM.

Pengalaman tersebut tercermin dalam perjalanan akademik Prof. Dr. Hasmyati, M.Kes, yang pernah memimpin Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan (FIKK) Universitas Negeri Makassar selama dua periode. Masa kepemimpinan ini bukan sekadar catatan administratif, tetapi proses panjang dalam memahami dinamika tata kelola perguruan tinggi, memperkuat struktur akademik, serta membangun fondasi kelembagaan yang stabil dan adaptif.

Selama periode tersebut, FIKK UNM menunjukkan perkembangan yang signifikan melalui penguatan sistem akademik dan ekspansi program studi strategis seperti Ilmu Gizi, Fisioterapi, dan Administrasi Kesehatan. Namun lebih dari itu, kepemimpinan yang dijalankan juga berfokus pada pembangunan sumber daya manusia sebagai kekuatan utama institusi.

Munculnya sejumlah kandidat dekan dari lingkungan FIKK dalam proses pemilihan kepemimpinan fakultas menjadi indikator bahwa proses kaderisasi berjalan secara sehat. Hal ini menunjukkan bahwa kepemimpinan tidak hanya menghasilkan program, tetapi juga melahirkan pemimpin-pemimpin baru. Dalam perspektif pendidikan tinggi modern, kemampuan menciptakan regenerasi akademik merupakan salah satu indikator utama dari kepemimpinan yang matang dan berorientasi jangka panjang.

Sejumlah kolega mengenal Prof. Hasmyati sebagai figur yang menempatkan penguatan sumber daya manusia sebagai inti kepemimpinan. Pendekatan yang menekankan kolaborasi, kedekatan dengan sivitas akademika, serta menjaga stabilitas organisasi menjadi ciri kepemimpinan yang tidak hanya kuat secara sistem, tetapi juga mampu merangkul berbagai dinamika yang ada.

Kepemimpinan seperti ini menunjukkan bahwa kekuatan institusi tidak hanya dibangun melalui kebijakan, tetapi juga melalui hubungan yang saling menghargai, sejalan dengan nilai Sipakatau sebagai fondasi etika sosial.
Pengalaman memimpin dalam periode yang panjang juga memberikan pemahaman yang utuh terhadap tantangan nyata perguruan tinggi saat ini, mulai dari peningkatan reputasi akademik, percepatan riset dan inovasi, hingga tuntutan tata kelola yang adaptif terhadap perubahan zaman. Dalam berbagai ruang diskusi, penekanan pada pentingnya kualitas dosen, kolaborasi, serta stabilitas kelembagaan menjadi bagian dari arah kepemimpinan yang ditawarkan.

Ke depan, UNM membutuhkan kepemimpinan yang tidak hanya mampu membawa perubahan, tetapi juga menjaga keseimbangan antara transformasi dan stabilitas. Transformasi yang kuat hanya dapat berjalan dengan baik jika didukung oleh fondasi organisasi yang solid, suasana akademik yang kondusif, serta kepemimpinan yang mampu menyatukan berbagai kepentingan dalam satu arah yang sama.

Dalam konteks inilah, pengalaman membangun fakultas menjadi relevan sebagai modal untuk melihat universitas secara lebih luas. Dari penguatan unit akademik, kini tantangan yang lebih besar adalah bagaimana membangun universitas sebagai sistem yang utuh, dengan tetap menjadikan manusia sebagai pusat penggerak utama.

Kepemimpinan yang dibutuhkan ke depan adalah kepemimpinan yang hadir dengan ketenangan, ketegasan, serta kemampuan merangkul seluruh civitas akademika. Bukan hanya menghadirkan program, tetapi memastikan keberlanjutan, harmoni, dan arah yang jelas bagi perkembangan institusi.
Dalam perspektif tersebut, figur dengan rekam jejak kepemimpinan yang menekankan stabilitas, penguatan sumber daya manusia, serta kemampuan menyatukan berbagai elemen menjadi semakin relevan untuk membawa UNM menuju fase perkembangan berikutnya.

Pada akhirnya, universitas besar tidak hanya dibangun oleh gagasan besar, tetapi oleh kepemimpinan yang mampu menghadirkan kepercayaan, menjaga kebersamaan, dan memastikan setiap elemen bergerak dalam satu visi yang sama. Dan dari sanalah masa depan sebuah universitas benar-benar dimulai. (**)

redaksi: