Buruh, Sampah, dan Masa Depan yang Sedang Diperebutkan

Oleh : Mashud Azikin
Anggota Dewan Lingkungan Kota Makassar

MAKASSAR,INISULSEL.COM,– Pagi di Makassar selalu dimulai dengan suara yang nyaris tak pernah masuk pidato kenegaraan: derit gerobak sampah, bunyi pintu kontainer, dan langkah cepat para pekerja kebersihan yang bergerak sebelum kota benar-benar bangun.
Mereka bekerja ketika sebagian besar warga masih tidur.

Mengangkat sisa makanan, plastik sekali pakai, kardus belanja daring, popok bayi, hingga limbah rumah tangga yang dibuang tanpa sempat dipikirkan lagi oleh pemiliknya. Mereka membersihkan jejak konsumsi sebuah kota modern.

Ironisnya, justru di tengah dunia yang semakin digital, pekerjaan paling mendasar itu masih dikerjakan oleh tangan manusia—keringat manusia—dan ketahanan tubuh manusia.

Hari Buruh tahun 2026 datang dengan wajah yang berbeda.
Ia tidak lagi sekadar bicara soal upah minimum atau demonstrasi di jalan raya.

Dunia kerja Indonesia kini sedang berada di sebuah tikungan sejarah: antara mesin dan manusia, antara investasi dan perlindungan tenaga kerja, antara efisiensi industri dan martabat buruh.
Negara menyebutnya transisi ekonomi.
Buruh menyebutnya ketidakpastian.

UU Cipta Kerja yang kini telah menjadi UU Nomor 6 Tahun 2023 masih menjadi bara panjang dalam hubungan industrial Indonesia. Pemerintah percaya regulasi itu membuka jalan investasi dan mempercepat pertumbuhan ekonomi. Namun di lantai pabrik, di ruang produksi, dan di sektor padat karya, banyak pekerja merasa masa depan mereka justru semakin mudah diputus kontraknya.
Outsourcing tetap menjadi luka yang belum sembuh.

Di banyak kawasan industri, status kerja berubah menjadi semacam ruang tunggu tanpa kepastian. Orang bekerja bertahun-tahun, tetapi tetap dianggap sementara. Hari ini diterima, besok bisa diganti. Hubungan kerja menjadi sedingin aplikasi digital: cepat, praktis, dan minim ikatan emosional.

Di sektor tekstil, garmen, dan alas kaki, badai PHK belum benar-benar reda. Lebih dari 120 ribu pekerja terdampak sejak 2024 hingga awal 2026. Angka itu bukan sekadar statistik. Di baliknya ada cicilan rumah yang macet, anak sekolah yang terancam putus pendidikan, dan dapur yang mulai kehilangan asap.

Tetapi zaman memang sedang berubah terlalu cepat.

Anak-anak muda Gen Z kini tumbuh dalam dunia yang berbeda dari generasi orang tua mereka. Mereka tidak lagi memimpikan bekerja 30 tahun di satu perusahaan. Dunia digital menawarkan ilusi kebebasan: menjadi kreator konten, dropshipper, affiliate marketer, streamer, freelancer, hingga pengemudi aplikasi.

Masalahnya, kebebasan digital sering kali tidak dibarengi perlindungan sosial.
Banyak anak muda bekerja tanpa jaminan kesehatan, tanpa pesangon, tanpa kepastian pendapatan. Mereka aktif setiap hari, tetapi statusnya dianggap “mitra”, bukan pekerja. Mereka online terus-menerus, tetapi tetap rentan secara ekonomi.

Ekonomi digital ternyata tidak selalu berarti ekonomi yang adil.

Di titik inilah Hari Buruh kehilangan makna romantiknya sebagai simbol kaum pabrik semata. Buruh hari ini adalah siapa saja yang menjual tenaga, waktu, pikiran, dan energinya untuk bertahan hidup—termasuk kurir makanan yang kehujanan, admin toko daring yang begadang, operator live shopping yang kehilangan jam tidur, hingga petugas kebersihan yang memungut sampah plastik dari drainase kota.

Dan di antara seluruh sektor kerja yang sering diabaikan, dunia persampahan adalah cermin paling jujur tentang bagaimana negara memperlakukan buruhnya.
Kita hidup di era konsumsi instan.
Belanja satu klik.
Makanan satu aplikasi.
Barang datang cepat.
Sampah datang lebih cepat.
Tetapi sedikit sekali anak muda yang bercita-cita menjadi pengelola sampah, pemilah limbah, atau pekerja kebersihan kota. Padahal justru di sanalah masa depan ekologis Indonesia sedang dipertaruhkan.

Makassar, seperti banyak kota besar lain, sedang menghadapi ledakan sampah rumah tangga dan plastik sekali pakai.
Gunungan limbah tumbuh seiring pertumbuhan ekonomi digital. Setiap paket belanja online menyisakan plastik, bubble wrap, kardus, dan residu konsumsi baru.
Artinya, ekonomi digital diam-diam juga menciptakan kelas buruh baru: para pekerja pengangkut dan pengolah sampah kota.

Mereka bekerja di hilir peradaban modern.
Namun sayangnya, literasi publik terhadap profesi ini masih rendah. Banyak orang melihat petugas kebersihan hanya sebagai pelengkap kota, bukan penjaga ekologi urban. Padahal tanpa mereka, kota akan lumpuh hanya dalam hitungan hari.

Karena itu, Hari Buruh hari ini seharusnya tidak berhenti pada tuntutan kenaikan upah. Ia harus bergerak lebih jauh: membangun penghormatan baru terhadap semua kerja yang menjaga keberlanjutan hidup manusia.

Termasuk pekerjaan lingkungan hidup.

Anak-anak Gen Z sebenarnya memiliki peluang besar mengambil peran di sektor ini. Dunia sedang bergerak menuju ekonomi hijau. Industri daur ulang, pengolahan sampah organik, eco enzyme, bank sampah digital, urban farming, hingga bisnis ekonomi sirkular akan menjadi pasar kerja masa depan.
Tetapi masalahnya, sistem pendidikan kita masih terlalu sibuk mencetak pencari kerja, bukan pencipta solusi.

Sekolah mengajarkan cara lulus ujian, tetapi jarang mengajarkan cara mengelola sampah rumah tangga. Kampus membicarakan kecerdasan buatan, tetapi sering lupa membahas krisis lingkungan yang nyata di depan mata.

Padahal generasi muda hari ini tidak hanya membutuhkan keterampilan digital. Mereka juga membutuhkan kesadaran ekologis.
Sebab masa depan pekerjaan tidak lagi ditentukan semata oleh ijazah, tetapi oleh kemampuan manusia menjawab krisis zaman.

Dan salah satu krisis terbesar itu adalah sampah.

Hari Buruh 2026 akhirnya memperlihatkan satu kenyataan penting: dunia kerja sedang berubah, tetapi martabat manusia tidak boleh ikut hilang.

Negara boleh mengejar investasi.
Perusahaan boleh mengejar efisiensi.
Teknologi boleh terus berkembang.
Namun jika buruh hanya dipandang sebagai angka produksi, maka cepat atau lambat, kita sedang membangun ekonomi yang kehilangan nurani.

Di ujung semua perdebatan tentang upah, outsourcing, PHK, dan digitalisasi, sesungguhnya ada pertanyaan yang jauh lebih mendasar:

Apakah pekerjaan masih mampu memberi manusia rasa aman untuk hidup?

Jika jawabannya belum, maka perjuangan buruh belum selesai.

Dan selama kota masih menghasilkan sampah lebih cepat daripada kesadaran manusianya, selama pekerja informal masih dipinggirkan oleh sistem digital, selama petugas kebersihan masih dianggap bayangan di pinggir jalan—maka Hari Buruh akan selalu menjadi pengingat bahwa peradaban modern ternyata masih berdiri di atas pundak orang-orang yang paling jarang disebut namanya.(**)

redaksi: