MAKASSAR,INISULSEL.COM, – Kebiasaan sederhana memilah sampah dari rumah ternyata mampu memberikan dampak besar bagi lingkungan. Berangkat dari semangat itulah, Ketua RW 02 Kelurahan Tamparang Keke, Kecamatan Mamajang, Indonesia Sigeri, bersama jajaran Ketua RT menggelar sosialisasi pemilahan sampah yang turut dihadiri sejumlah Ketua RW dan RT dari wilayah lain.
Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat agar membiasakan memilah sampah organik dan anorganik sejak dari sumbernya, yakni rumah tangga.
Dalam pemaparannya, Indonesia Sigeri menegaskan bahwa pemilahan sampah merupakan langkah awal yang sangat penting untuk mempermudah proses daur ulang, mengurangi penumpukan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA), serta mencegah pencemaran lingkungan.
“Sampah yang dipilah sejak dari rumah memiliki nilai manfaat yang jauh lebih besar dibandingkan jika tercampur begitu saja,” ujarnya.
Ia menjelaskan, sampah organik seperti sisa makanan dan dedaunan dapat diolah menjadi kompos yang bermanfaat untuk menyuburkan tanah maupun menjadi pakan ternak melalui proses pengolahan yang tepat.
Sementara itu, sampah anorganik seperti plastik, kertas, kaca, logam, dan berbagai material bernilai ekonomi lainnya dapat dikelola melalui Bank Sampah Sektoral, Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R), maupun sistem pengelolaan inovatif seperti Teba.
Menurutnya, kebiasaan memilah sampah akan semakin penting mengingat Pemerintah Kota Makassar akan menerapkan kebijakan wajib memilah sampah dari sumbernya. Tahap uji coba secara masif dijadwalkan berlangsung pada Juli 2026, sebelum diberlakukan secara penuh mulai Agustus 2026. Setelah kebijakan tersebut efektif, hanya sampah residu yang diperbolehkan masuk ke TPA Tamangapa.
Pada kesempatan yang sama, salah satu Pembina Forum Kota Sehat, Muh. Idris, yang akrab disapa Baba Ong, turut memberikan edukasi mengenai pengolahan sampah organik menggunakan komposter ember tumpuk.
Ia menjelaskan bahwa metode tersebut sangat cocok diterapkan di kawasan permukiman dengan lahan terbatas. Sistem ini menggunakan dua ember yang disusun bertingkat, di mana ember bagian atas berfungsi menampung sampah organik rumah tangga untuk diolah menjadi kompos padat, sedangkan ember bagian bawah dilengkapi keran sebagai penampung air lindi yang dapat dimanfaatkan sebagai Pupuk Organik Cair (POC).
“Melalui komposter ember tumpuk, sisa makanan tidak lagi menjadi limbah, tetapi berubah menjadi pupuk yang kaya unsur hara seperti nitrogen, fosfor, dan kalium. Selain menyuburkan tanaman, cara ini juga mampu memperbaiki struktur tanah sekaligus mengurangi volume sampah yang berakhir di TPA,” jelasnya.
Ia juga menambahkan bahwa gerakan pemilahan sampah dan pengolahan kompos bukan hanya berdampak pada kebersihan lingkungan, tetapi juga menjadi salah satu indikator penting dalam Tatanan Permukiman, Sarana dan Prasarana Umum pada Program Kabupaten/Kota Sehat (KKS).
Melalui sosialisasi ini, diharapkan masyarakat semakin memahami bahwa pengelolaan sampah bukan semata menjadi tanggung jawab pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama. Dimulai dari kebiasaan sederhana memilah sampah di rumah, setiap warga dapat berkontribusi menciptakan lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan bagi generasi mendatang.(**)