Oleh : Mashud Azikin
(Anggota Dewan Lingkungan Kota Makassar)
MAKASSAR,INISULSEL.COM,-Ada sebuah ironi yang barangkali hanya dapat dirasakan di tempat seperti Paotere.
Setiap pagi, laut datang ke kota membawa kehidupan.
Ikan-ikan diturunkan dari perahu. Nelayan pulang dengan sisa malam yang masih melekat pada wajah mereka. Pedagang mulai membuka lapak. Buruh angkut mengangkat keranjang. Pembeli berdatangan.
Laut memberi makan kota.
Namun, beberapa jam kemudian, sebagian pemberian itu berubah menjadi sesuatu yang kita sebut sampah.
Jeroan mengalir ke selokan. Darah ikan bercampur dengan air cucian. Insang dan kepala menumpuk. Sisik berserakan. Tulang ditinggalkan.
Laut yang memberi kehidupan perlahan kita balas dengan limbah.
Di situlah Paotere sesungguhnya menjadi lebih dari sekadar pasar ikan.
Ia menjadi cermin hubungan manusia dengan alam.
Dan mungkin, melalui Paotere, kita sedang melihat wajah peradaban kita sendiri.
Laut bukan gudang pangan
Peradaban modern memiliki kebiasaan yang mengkhawatirkan: mengambil sesuatu dari alam seolah-olah alam merupakan gudang yang tidak pernah habis.
Kita mengambil ikan dari laut.
Mengambil air dari sungai.
Mengambil mineral dari bumi.
Mengambil kayu dari hutan.
Kemudian, ketika barang yang kita ambil telah selesai digunakan, kita mencari tempat lain untuk meletakkan sisanya.
Seakan-akan bumi merupakan tempat penyimpanan tanpa batas.
Cara berpikir semacam itu melahirkan ekonomi linear: ambil, gunakan, buang.
Padahal, alam bekerja dengan cara yang berbeda.
Tidak ada daun yang benar-benar menjadi sampah bagi hutan.
Daun jatuh, membusuk, menjadi humus, lalu memberi makan pohon yang kelak menghasilkan daun baru.
Bangkai menjadi makanan bagi organisme lain.
Air menguap, menjadi awan, jatuh sebagai hujan, lalu kembali menghidupi bumi.
Alam mengenal siklus.
Manusia modern menciptakan garis lurus.
Di antara keduanya terdapat persoalan ekologis kita.
Paotere sebagai ingatan maritim
Paotere merupakan salah satu ruang tempat Makassar masih dapat mendengar denyut masa lalunya.
Kota ini tumbuh dari laut.
Dalam sejarah panjangnya, laut bukan sekadar halaman belakang. Laut merupakan jalan raya, ruang perdagangan, sumber pangan, dan ruang perjumpaan kebudayaan.
Para pelaut Bugis-Makassar memahami laut bukan hanya sebagai wilayah yang harus ditaklukkan, melainkan sebagai ruang yang menuntut keberanian sekaligus kehati-hatian.
Dalam kebudayaan Bugis-Makassar, kita mengenal siri’ na pacce—sebuah nilai yang menempatkan martabat, solidaritas, dan kepedulian terhadap sesama sebagai bagian dari kehidupan sosial.
Barangkali nilai itu perlu kita perluas.
Jika pacce mengajarkan kepekaan terhadap penderitaan sesama manusia, mungkinkah pada zaman ekologis ini kita juga membutuhkan semacam pacce terhadap alam?
Kepekaan terhadap laut yang tercemar.
Kepekaan terhadap sungai yang dipenuhi sampah.
Kepekaan terhadap tanah yang kehilangan kesuburan.
Kepekaan terhadap ikan yang tubuhnya kita ambil, tetapi sisa kehidupannya kita perlakukan tanpa penghormatan.
Sebab, pada akhirnya, kerusakan ekologis kembali menjadi penderitaan manusia.
Yang kita sebut sampah adalah kehidupan yang belum selesai
Ada sesuatu yang menarik dari limbah ikan.
Limbah tersebut tidak benar-benar mati dalam pengertian ekologis.
Ia masih mengandung protein, nitrogen, fosfor, kalsium, dan unsur organik lainnya.
Jeroan dapat diolah menjadi bahan pupuk organik melalui proses yang tepat dan terkendali.
Tulang dan kepala dapat menjadi bahan baku tepung ikan setelah melalui pengolahan yang memenuhi persyaratan keamanan.
Sisa organik dapat dikomposkan.
Sisik bahkan dapat membuka peluang pengembangan produk turunan.
Dengan kata lain, yang kita sebut sampah itu sebenarnya hanyalah kehidupan yang belum menemukan jalan pulang.
Kalimat itu mungkin terdengar sederhana.
Namun, di dalamnya terkandung perubahan paradigma yang besar.
Kita tidak lagi bertanya bagaimana cara membuang limbah.
Kita bertanya bagaimana cara mengembalikannya ke dalam siklus kehidupan.
Itulah inti ekonomi sirkular.
Bukan sekadar teknologi.
Bukan sekadar bisnis.
Melainkan perubahan cara pandang mengenai hubungan manusia dengan benda-benda yang mengelilinginya.
Laudato Si’: rumah yang kita lupakan
Dalam Laudato Si’, Paus Fransiskus mengingatkan bahwa bumi adalah “rumah bersama” (common home).
Gagasan itu sesungguhnya melampaui batas agama.
Rumah bersama berarti kita tidak hidup sendirian.
Air yang tercemar tidak memilih agama.
Udara yang kotor tidak mengenal kelas sosial.
Ikan yang mengandung pencemar tidak mengenal batas administratif.
Kerusakan ekosistem selalu menemukan jalan untuk kembali kepada manusia.
Karena itu, persoalan limbah Paotere tidak dapat dipandang semata-mata sebagai persoalan pedagang ikan.
Ia merupakan persoalan bersama.
Sebab, pesisir adalah rumah bersama.
Laut adalah rumah bersama.
Udara adalah rumah bersama.
Dan Paotere, dengan seluruh hiruk-pikuknya, merupakan salah satu ruang tempat kita diuji: apakah kita mampu hidup di dalam rumah bersama tanpa merusaknya?
Rumah Olah Limbah
Mungkin jawaban itu tidak perlu dimulai dari sesuatu yang besar.
Ia dapat dimulai dari sebuah rumah kecil.
Rumah Olah Limbah Paotere.
Di sana, setiap pedagang memiliki wadah tertutup untuk memisahkan limbah organik ikan.
Jeroan dipisahkan dari plastik.
Kepala dan tulang dipisahkan.
Sisik dikumpulkan.
Petugas mengangkutnya secara teratur.
Kemudian, limbah masuk ke jalur pengolahan masing-masing.
Sebagian menjadi pupuk organik.
Sebagian menjadi kompos.
Sebagian menjadi bahan pakan.
Sebagian dikembangkan menjadi produk turunan.
Perguruan tinggi melakukan riset.
UMKM mengembangkan pasar.
Komunitas mengorganisasi.
Pemerintah menyediakan regulasi dan infrastruktur.
Pedagang menjadi bagian dari sistem, bukan sekadar objek yang harus diberi instruksi.
Jika sistem ini berjalan, sesuatu yang lebih besar daripada sekadar kebersihan akan lahir.
Paotere akan memiliki ekonomi ekologinya sendiri.
Dan di sana, kebersihan bukan lagi biaya.
Kebersihan menjadi nilai ekonomi.
Dari sampah menuju martabat
Sering kali kita berbicara tentang lingkungan dengan bahasa yang terlalu teknis.
Tonase.
Volume.
Persentase.
Emisi.
Indeks kualitas air.
Semua itu penting.
Namun, manusia tidak hidup hanya dengan angka.
Ada martabat di balik setiap angka.
Di balik satu ton limbah ikan terdapat pedagang yang bekerja.
Ada buruh yang mengangkat.
Ada nelayan yang melaut.
Ada keluarga yang menunggu penghasilan.
Ada pembeli yang membutuhkan pangan.
Dan ada masyarakat pesisir yang harus menerima akibat jika limbah itu tidak dikelola.
Karena itu, pengelolaan limbah pada akhirnya merupakan persoalan keadilan ekologis.
Siapa yang menikmati manfaat?
Siapa yang menanggung bebannya?
Siapa yang memiliki akses terhadap nilai ekonominya?
Dan siapa yang dipaksa hidup berdampingan dengan pencemarannya?
Pertanyaan-pertanyaan itu jauh lebih penting daripada sekadar bertanya ke mana sampah harus dibuang.
Kota yang belajar meminta maaf
Mungkin sudah waktunya Makassar belajar meminta maaf kepada laut.
Bukan melalui seremoni.
Bukan melalui slogan.
Melainkan melalui perubahan perilaku.
Memilah sampah dari sumber.
Mengurangi limbah.
Mengolah bahan organik.
Menghentikan kebiasaan menjadikan saluran air sebagai tempat pembuangan.
Membangun ekonomi yang tidak selalu berakhir di tempat pembuangan akhir.
Paotere dapat menjadi awal dari permintaan maaf itu.
Sebab, meminta maaf kepada alam bukan berarti sekadar mengucapkan sesuatu.
Ia berarti mengubah cara kita hidup.
Menemukan kembali hubungan yang hilang
Barangkali, krisis lingkungan pada akhirnya merupakan krisis hubungan.
Hubungan manusia dengan tanah.
Hubungan manusia dengan air.
Hubungan manusia dengan makanan.
Hubungan manusia dengan sesamanya.
Dan hubungan manusia dengan dirinya sendiri.
Kita terlalu lama menganggap alam sebagai sesuatu yang berada “di luar” diri kita.
Padahal, tubuh kita sendiri terdiri atas tanah, air, udara, mineral, dan makanan yang berasal dari alam.
Kita bukan berada di dalam alam.
Kita adalah bagian dari alam.
Karena itu, ketika laut terluka, sesungguhnya sebagian dari rumah kita sedang terluka.
Ketika pesisir berbau busuk, sebagian dari kehidupan kota sedang membusuk.
Dan ketika limbah ikan memenuhi saluran air Paotere, yang sedang kita lihat bukan sekadar persoalan kebersihan.
Kita sedang melihat sebuah hubungan yang kehilangan keseimbangannya.
Paotere, masa depan yang mungkin
Saya membayangkan suatu pagi di Paotere beberapa tahun mendatang.
Perahu datang seperti biasa.
Ikan diturunkan.
Pedagang berteriak menawarkan dagangan.
Buruh mengangkut keranjang.
Pasar tetap riuh.
Namun, ada satu hal yang berbeda.
Tidak ada lagi jeroan yang mengalir ke got.
Tidak ada tumpukan limbah yang membusuk di sudut pasar.
Di sebuah bangunan sederhana, limbah ikan ditimbang dan diproses.
Sebagian menjadi pupuk yang kemudian digunakan petani.
Sebagian menjadi bahan pakan.
Sebagian menjadi kompos yang menyuburkan kebun-kebun kota.
Anak-anak sekolah datang berkunjung.
Mereka melihat bagaimana seekor ikan yang berasal dari laut dapat menempuh perjalanan panjang: dari laut ke meja makan, dari meja pengolahan menjadi limbah, lalu dari limbah kembali menjadi kesuburan tanah.
Mungkin, ketika itu, mereka akan memahami sesuatu yang tidak mudah dijelaskan melalui buku pelajaran:
bahwa tidak ada yang benar-benar menjadi sisa selama manusia bersedia menemukan kembali tempatnya dalam siklus kehidupan.
Dan mungkin, Paotere tidak lagi dikenal hanya sebagai tempat ikan diperjualbelikan.
Ia dikenal sebagai tempat sebuah kota belajar menghormati laut.
Sebab, pada akhirnya, persoalan terbesar kita bukanlah bagaimana mengolah limbah ikan.
Persoalan terbesar kita adalah bagaimana mengubah cara manusia memandang alam.
Selama laut hanya dianggap sebagai gudang ikan, kita akan terus mengambil.
Selama tanah hanya dianggap sebagai tempat menanam, kita akan terus menguras.
Selama sampah hanya dianggap sebagai sesuatu yang harus dibuang, kita akan terus memindahkan masalah.
Namun, ketika kita mulai melihat laut sebagai rumah, tanah sebagai kehidupan, dan limbah sebagai bagian dari siklus, cara kita hidup akan berubah.
Paotere memberi kesempatan untuk memulai perubahan itu.
Di sana, laut dan kota bertemu setiap hari.
Laut datang membawa rezeki.
Kota menerima.
Maka, sudah semestinya kota belajar mengembalikan sesuatu.
Bukan sampah.
Melainkan penghormatan.
Sebab, laut mungkin tidak pernah menghitung berapa banyak ikan yang telah diberikannya kepada manusia.
Namun, sejarah kelak akan mencatat bagaimana manusia memperlakukan laut setelah semua pemberian itu kita ambil.
Dan barangkali, pertanyaan paling penting yang harus kita tinggalkan untuk generasi berikutnya bukanlah:
berapa banyak ikan yang berhasil kita tangkap?
Melainkan:
setelah semua yang diberikan laut kepada kita, apa yang telah kita kembalikan kepadanya?